Showing posts with label SEJARAH. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH. Show all posts

Alasan 1hari=24jam, 1jam=60menit, 1menit=60detik

Pernahkah anda bertanya-tanya mengapa dalam 1 hari ada 24 jam, dalam 1 menit ada 60 detik, dan dalam 1 detik ada 60 menit? Inilah jawabannya
Sistem bilangan yang paling banyak digunakan manusia saat ini adalah sistem desimal, yaitu sebuah sistem bilangan berbasis 10. Namun untuk mengukur waktu kita menggunakan sistem duodesimal (basis 12) dan sexadesimal (basis 60). Hal ini disebabkan karena metode untuk membagi hari diturunkan dari sistem bilangan yang digunakan oleh peradaban kuno Mediterania. Pada sekitar tahun 1500 SM, orang-orang Mesir kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 12, dan mereka mengembangkan sebuah sistem jam matahari berbentuk seperti huruf T yang diletakkan di atas tanah dan membagi waktu antara matahari terbit dan tenggelam ke dalam 12 bagian. Para ahli sejarah berpendapat, orang-orang Mesir kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 12 didasarkan akan jumlah siklus bulan dalam setahun atau bisa juga didasarkan akan banyaknya jumlah sendi jari manusia (3 di tiap jari, tidak termasuk jempol) yang memungkinkan mereka berhitung hingga 12 menggunakan jempol.


Jam matahari generasi berikutnya sudah sedikit banyak merepresentasikan apa yang sekarang kita sebut dengan “jam”. Sedangkan pembagian malam menjadi 12 bagian, didasarkan atas pengamatan para ahli astronomi Mesir kuno akan adanya 12 bintang di langit pada saat malam hari.
Dengan membagi satu hari dan satu malam menjadi masing-masing 12 jam, maka dengan tidak langsung konsep 24 jam diperkenalkan. Namun demikian panjang hari dan panjang malam tidaklah sama, tergantung musimnya (contoh: saat musim panas hari lebih panjang dibandingkan malam). Oleh karena itu pembagian jam dalam satu hari pun berubah-ubah sesuai dengan musimnya. Sistem waktu ini disebut dengan sistem waktu musiman. Pada sekitar tahun 147-127 SM, seorang ahli astronomi Yunani bernama Hipparchus menyarankan agar banyaknya jam dalam satu hari dibuat tetap saja yaitu sebanyak 24 jam, disebut dengan sistem waktu equinoctial. Namun sistem ini baru diterima secara luas oleh saat ditemukannya jam mekanik di Eropa pada abad ke-14.
 Hipparcus
Eratosthenes (276-194 SM), seorang ahli astronomi Yunani lainnya membagi sebuah lingkaran menjadi 60 bagian untuk membuat sistem geografis latitude. Teknik ini didasarkan atas sistem berbasis 60 yang digunakan oleh orang-orang Babilonia yang berdiam di Mesopotamia, yang jika ditilik lebih jauh diturunkan dari sistem yang digunakan oleh peradaban Sumeria sekitar 2000 SM. Tidak diketahui dengan pasti mengapa menggunakan sistem bilangan berbasis 60, namun satu dugaan mengatakan untuk kemudahan perhitungan karena angka 60 adalah merupakan angka terkecil yang dapat dibagi habis oleh 10, 12, 15, 20 dan 30.
 Eratosthenes
Satu abad kemudian, Hipparchus memperkenalkan sistem longitude 360 derajat. Dan pada sekitar 130 M, Claudius Ptolemy membagi tiap derajat menjadi 60 bagian. Bagian pertama disebut dengan partes minutae primae yang artinya menit pertama, bagian yang kedua disebut partes minutae secundae atau menit kedua, dan seterusnya. Walaupun ada 60 bagian, yang digunakan hanyalah 2 bagian yang pertama saja dimana bagian yang pertama menjadi menit, dan bagian yang kedua menjadi detik. Sedangkan sisa 58 bagian yang lainnya membentuk satuan waktu yang lebih kecil daripada detik.

Sistem waktu ini membutuhkan waktu berabad-abad untuk tersebar luas penggunaannya. Bahkan jam penunjuk waktu pertama yang menampilkan menit dibuat pertama kali pada abad ke-16. Sistem waktu ini digunakan hingga sekarang oleh kita manusia modern.
 
 
read more

Sejarah IBM

International Business Machines Corporation (disingkat IBM; NYSE: IBM) adalah sebuah perusahaan Amerika Serikat yang memproduksi dan menjual perangkat keras dan perangkat lunak komputer. IBM didirikan pada 15 Juni 1911, beroperasi sejak 1888 dan berpusat di Armonk, New York, Amerika Serikat.

Dengan lebih dari 330.000 pegawai di seluruh dunia dan pendapatan US$96 miliar (angka dari 2004), IBM adalah perusahaan teknologi informasi terbesar di dunia, dan salah satu yang terus berlanjut dari abad 19. Dia memiliki teknisi dan konsultan di lebih dari 170 negara dan laboratorium pengembangan yang berlokasi di seluruh dunia, di setiap cabang ilmu komputer dan teknologi informasi; beberapa dari mereka adalah pionir di bidang mulai dari komputer mainframe ke nanoteknologi.

Mesin-mesin dan produk IBM yang sukses adalah Mainframe dengan sistem 370 (1960an), IBM PC, AS/400 dan RS/6000 (1980an), PowerPC CPU (1990an, bekerja sama dengan Motorola - sekarang Freescale )

Dalam tahun-tahun belakangan ini, pendapatan jasa dan konsultasi lebih besar dari produksi. Samuel J. Palmisano dipilih menjadi CEO pada 29 Januari 2002 setelah memimpin Jasa Global IBM, dan menolongnya menjadi bisnis dengan "backlog" US$100 miliar di 2004.

Pada 2002 perusahaan ini menguatkan kemampuan nasihat bisnisnya dengan mengambil alih perusahaan jasa konsultan tekemuka PricewaterhouseCoopers. Perusahaan ini terus memfokuskan usahanya di konsultasi jawaban bisnis, jasa dan perangkat lunak, dan juga menekankan chip harga tinggi dan teknologi perangkat keras. Pada 2004 dia mempekerjakan sekitar 191.000 teknisi profesional. Yang termasuk 300-400 Teknisi Terkenal dan 50-60 "IBM fellow", teknisi paling senior.

IBM Research memiliki delapan laboratorium riset yang terletak di belahan utara dunia, dengan setengahnya terletak di luar Amerika Serikat. Pegawai IBM telah meraih lima penghargaan Nobel. Di Amerika, mereka juga mendapatkan empat Penghargaan Turing, lima Medali Teknologi Nasional, dan lima Medali Sains Nasional, dan juga banyak lagi di luar Amerika.

Pada 1 Mei 2005, divisi PC IBM secara resmi diambil alih oleh perusahaan Republik Rakyat Cina Lenovo.

CEO IBM sekarang adalah Samuel J. Palmisano yang menggantikan Louis V. Gerstner sejak tanggal 29 Januari 2002. Louis V. Gerstner menjadi CEO IBM selama 10 tahun menggantikan John Ackers yang dipecat karena hampir membangkrutkan IBM pada tahun 1992. Sebelumnya Louis V. Gerstner bekerja untuk Nabisco.

IBM berdiri pada tahun 1911 sebagai perusahaan CTR (computing tabulating recording). Pada tahun 1890 perusahaan ini adalah merger dari tiga perusahaan. Tiga tahun yang lalu, Thomas J Watson, 40 bergabung di perusahaan ini, tidak begitu lama menjadi presiden dan melembagakan beberapa symbol dan praktis IBM yang telah dikenal dalam sejarah antara lain; menyesuaikan bagian penjualan, menekankan pada kebanggaan perusahaan dan loyalitas, diterapkan (meskipun hal ini tidak bias menjamin ) pekerjaan seumur hidup, dan etika kerja yang diekspresikan dengan slogan THINK. Perusahaan berekspansi secara internasional dan mengadopsi nama itu pada tahun 1952, dia mengubah kepemimpinan/ suksesi (pemindahan kekuasaan kepada putranya, Thomas, Watson,Jr
kantor IBM di London 1935
Dibawah Watson,Jr, IBM muncul sebagai perusahaan computer yang dominant di dunia. Selama kurun waktu 20 tahun berikutnya, perusahaan memproduksi berbagai seri inovasi penyimpanan kalkulasi otomatis dan informasi, termasuk satu dari computer berbahasa Inggris (FORTRAN), saudara pertama produk menawarkan interchangeability dari komponen –komponen untuk memproduksi system computer (system/360).

Berdasarkan beberapa jurnal penulis menemukan banyak sekali informasi bagaimana strategi penyehatan IBM:

Menurut jurnal berisi percakapan berjudul “Lou Takes the Gloves Off the IBM CEO on the Turnaround and on his critics (Business Week)” digambarkan bahwa kurang dari dua bulan lagi pimpinan IBM Louis V.Gerstner Jr. akan pensiun. Gerstner, telah menulis pengalaman hidupnya di jurnal berjudul “Who Says Elephants Can’t Dance? Dalam interview tersebut untuk pertama kali menjawab kritikan-kritikan yang dialamatkan kepadanya bagaimana strategi penyehatan yang dibangun berdasarkan inisiatif kerja keuangan. Dia juga menangani kompensasi bagi CEO, serta berdiskusi tentang apa yang salah dengan industri di masa mendatang. Gerstner percaya mekanisme pengaturan pemerintahan/ perusahaan pada kenyataannya dengan cara aktif melibatkan para pemilik. Dia juga mengatakan kompensasi dibutuhkan untuk mengarahkan kinerja perusahaan. Kompensasi bagi CEO akan mempengaruhi kinerja mereka, saya percaya dalam kasus IBM tidak akan seorangpun akan membantah hal ini menurutnya.
Thomas J. Watson
Satu bulan setelah menggantikan CEO John F.Akers yang membuat Gerstner paling terkejut melihat kondisi IBM. Ketika masuk perusahaan tersebut, Gerstner percaya bahwa pokok permasalahan yang dihadapai perusahaan adalah strategi dan eksekusi. Antara lain kalau aturan IBM bersifat kabur tidak jelas dan kurang baik.Ini bukan berarti mempersoalkan mengenai pemilihan aturan dan kata semisal ‘charge’?! Amda harus melakukan penyehatan tapi tidak ada yang mengikuti Anda. Artinya bagaimana membuat orang/ karyawan menyadari bukan apa kemauan mereka, sehingga pandangan terhadap organisai jika tidak ada yang menarik untuk saya, saya tidak akan berpartisipasi, permasalahannya bukan strateginya tapi bagaimana eksekusi dari strategi tesebut.

Kesuksesan Gerstner dalam melakukan akuisisi adalah pendapatnya sebagai berikut; Jika hidup begitu mudah mending Anda beli saja kesuksesan itu, nyatanya didunia ini kesuksesan sebuah perusahaan bisa dihitung. Sukses sebuah perusahaan dibangun dari dasar/paling bawah. Menyatukan perusahaan dalam akuisisi berarti membawa problem-problem perusahaan yang ada. Ada sedikit perusahaan PC akan tetapi menawarkan pandangan sama. Kenapa kita harus menggandakan bisnis PC? Perusahaan telekomunikasi hampir diseluruh dunia mengajukan join ventura atau afiliasi. Ada banyak orang yang berpendapat bahwa melakukan ini berarti membawa konten bisnis, kita mengubah bisnis tersebut dari akar dan membuat akuisi dan mencocokkan strategi yang ada.

Proses pengintegrasian teknologi akan mencapai keuntungan hampir tidak dapat dipercaya begitu menyakitkan perusahaan. Padahal industri berjalan begitu cepat, berfungsi lebih. Ada perbedaan pandangan pelanggan kunci standard dan kunci interchangeability. Adalah benar jika media mengatakan tidak mungkin mengirimkan mesin ke general motor dalam bentuk berbeda ke perusahaan lain.

Menurut Gerstner pertumbuhan pendapatan bukan merupakan ukuran kesuksesan perusahaan. Menurutnya sekarang ini banyak sekali perusahaan over values soal revenue vs profit. Orang salah menggeneralisasikan pendapatan. Saya sangat menyukai pertumbuhan pendapatan . Tapi saya lebih memposisikan diri bagaimana kita serasa membangun perusahaan (IBM) baru selama hampir 5 sampai 10 tahun, dan lebih memfokuskan diri pada strategi baru, culture baru. Saya tidak akan merasa gugup ketika orang berkata bahwa pendapatan tahun ini naik sedikit lebih tinggi.

Gerstner menyoroti issue ganda yang berkembang soal teknik pelaporan keuangan (financial engineering). Di satu sisi IBM harus membayar pajak tiap tahun, akan tetapi bagaimana tax rate itu dari tahun ketahun harus turun, disinilah tanggung jawab manajemen untuk membuat biaya turun (cost of IT, real estate, dll). Banyak orang yang berpendapat disinilah peran financial engineering. Selanjutnya adalah bagaiman membagi buyback, ada perbedaan pandangan antara pemilik dan analist sector, menurut para pemilik mereka tidak senang menyimpan dalam kas ataupunmelakukan akuisisi. Menurut saya buat apa kas yang banyak tapi kita butuh keuntungan lebih akan lebih baik fokus pada peningkatan kompensasi, mendorong debt perusahaan mengurangi kas. Nantinya kita berikan kepada para shareholder keuntungan bukan hanya dividen tapi share buy back.
logo asli IBM yang digunakan sampai tahun 1946
Menurut Gerstner untuk menjaga perilaku perusahaan (corporate behaviour), kita tidak hanya bicara soal moral tapi bagaimana memiliki komite audit independent. Selanjutnya untuk melindungi kepentingan investor dan meyakinkan perusahaan ikuti aturan yaitu real mekanisme corporate governance (GCG) dengan melibatkan pemilik (owner).

Pendapat Gerstner tentang kompensasi CEO, dengan melihat bagaimana company performance, performance driven, jadi wajar memberikan kompensasi tinggi bagi mereka untuk pekerjaan mereka, artinya jika CEO berhasil memberikan keuntungan bagi shareholder bermilyar-milyar tentunya CEO akan mendapat berjuta-juta dan sebaliknya jika tidak tentunya jangan diharapkan mendapat penghasilan sejumlah itu, bahka mungkin saja gaji saya sekarang masih sama dalam 10 tahun.

Menurut Jurnal “Who Says Elephants Can’t Dance: Inside IBM’s Historic Turnaround”. Jurnal ini menceritakan bagaiman rezim atau era Gerstner (Reinventing Education) selama 9 tahun menjadi CEO IBM bagaimana suka dukanya kondisi paska krisis, dan usaha penyehatan perusahaan. Pasca ditinggalkan olehnya dan IBM berganti CEO RJR Nabisco. Gerstner menemukan secara menyeluruh insular culture, tidak mau berubah sejak awal (resisten dengan perubahan) oleh karena itu strategi yang dilakukan antara lain refocus energi IBM pada histories mainframe bisnis perusahaan, repetitive process, focus perhatian pada keinginan konsumen/ customer, sehingga IBM harus segera mengubah pasar dan mengurangi dorongan IBM’s world wide.

Selanjutnya jurnal “IBM Discover The Power of One”, Meskipun IBM sebagai pemimpin industri berteknologi tinggi, akan tetapi tidak luput menghadapi krisis (bencana di musim panas tahun 2003). Perusahaan unit semi konduktor ini, telah bertaruh strategi untuk bersaing dengan mengeluarkan berbagai chips sebagai pendatang baru, akan tetapi justru IBM kehilangan $1,2 juta hampir 18 bulan. Sehingga pada bulan 15 Juli 2003 CEO Samuel J. Palmisano, Zeitler dan hampir 70 lainnya harus memisahkan diri antara divisi chip dan divisi computer. Pada akhirnya perusahaan ini memutuskan untuk focus utama pada satu family chips, Power Microprocessors, awalnya memang belum mendapatkan respon lebih yang penting tujuan untuk menggeneralisasikan profit berhasil sehingga investasi diharapkan lebih baik lagi.

Berdasarkan jurnal “Dynamic Capabilities at IBM: Driving Strategy into Action”.
Selama kurun waktu 15 rahun perusahaan IBM ditandai denga transformasi yaitu perjuangan dalam penjualan hardware hingga sukses menjadi solusi provider. Menggarisbawahi perubahan ini foresighted strategy dan disciplined execution saling berhubungan. Dalam kaitannya dengan strategi perubahan ide dilatarbelakangi kemampuan dinamis, yaitu perusahaan sensitive dengan perubahan baik marketplace maupun mengukur peluang-peluang yang ada serta melakukan rekonfigurasi keberadaan asset dan kompetensi. Dalam jurnal ini disebutkan bagaiman kemampuan bersikap dinasmis pada kasus IBM menunjukkan bagaiman proses strategi keduanya mendorong pada kemungkinan eksplorasi pasar baru dan teknologi sehingga menghasilkan produk yang matang tereksplorasi dengan baik dan marketable (mainframe computers, middleware).

Jurnal berjudul “The New IBM” menggambarkan bagaimana 15 tahun yang lalu tepat pada bulan ini, Lou Gerstner datang ke IBM, dan menemukan bahwa perusahaan tersebut buta tidak percaya dengan masa depannya sendiri. Disinilah Gerstner mulai melakukan penyehatan. Taktik yang digunakan antara lain; servis (shif) sebagai dasar bisnis, lebih mendalami internet dan Linux, dan meneriakkan bahwa IBM tidak akan mengunci konsumen dalam pandangan sempit itu. Ketika IBM menghadapi disintegrasi mainframe business maka yg terjadi adalah collapse, Microsoft menghadapi disintegrasi jika Window collapse. Tapi perlu dipahami keduanya memiliki persamaan yaitu tidak percaya akan masa depan. Menurutnya The future is change. Windows mengalami permasalaham ketika Microsoft tidak berubah. Artinya Corporate IT professional dibutuhkan untuk mengarahkan Microsoft pada perubahan.

Berikutnya Jurnal berjudul “Analysts Predict IBM’s Turnaround Plans May Yield Earlier than Expected pay off”
Meskipun melalui jalan konsesus diprediksikan kuartal kedua IBM akan didapatkan $1.86 share, turun $2.12 awal tahun, beberapa analis saat ini berfikir akan mengeluarkan $2 share, dan Daniel Mandresh (Merril Lynch) memprediksi peningkatan dalam kuartal ini.

Sejarah Inovasi pada Perusahaan IBM
1945: IBM Research
IBM mendirikan fasilitas riset untuk pertama kalinya dalam bidang ilmu pengetahuan dasar. Fasilitas ini bernama Watson Scientific Computing Laboratory yang terletak di Columbia University. Riset ini bertujuan untuk mempelajari bidang fisika dan material science. Dalam prosesnya, fasilitas riset ini juga turut berperan dalam bidang computer science.

1952: Magnetic Core Memory
IBM menjadi perusahaan pertama yang mengintegrasikan bentul awal dari random-access memory ke dalam sistem komputer. Aplikasi awalnya digunakan pada tahun 1958 oleh NORAD (North American Aerospace Defence Command) dalam SAGE system untuk mengontrol lalu lintas udara secara real-time dan juga untuk keperluan pertahanan.

1956: RAMAC
Computer pertama yang mengandung hardisk magnetis untuk menyimpan data, bernama 305 Random Access Method of Accounting and Control yang mampu untuk membantu data bisnis seperti sales records, jadwal produksi dan inventori bisa disimpan, ditampilkan dan juga dianalisa. Peranti ini menyimpan data lima megabytes dengan biaya USD$ 10.000 per megabyte.

1957: FORTRAN
IBM membuat FORTRAN (formula translation), yaitu bahasa tingkat tinggi pertama yang tersedia untuk clientnya. Bahasa ini dibuat oleh John Backus, salah seorang peneliti di IBM. FORTRAN membolehkan programmer untuk menggunakan karakter dalam menulis program. Sebelumnya mereka harus mengetikkan bahasa mesin yang rumit untuk melakukan kegiatan pemrograman. Bahasa ini akhirnya banyak digunakan sebagai bahasa pemrograman untuk pekerjaan yang membutuhkan banyak perhitungan matematika seperti kalkulasi numerik.

1968: DRAM
Ilmuwan IBM, Bob Dennard, menemukan one-transistor dynamic random-access memory (DRAM), dimana hal ini merupakan kemajuan yang besar dalam masalah memory density. DRAM sampai saat ini juga masih menjadi bentuk yang dominan dalam memori komputer.

1969: Lunar Missions
Teknisi IBM dan komputer System/360 sudah membantu National Aeronautics and Space Administration (NASA) dalam membawa manusia ke bulan untuk pertama kalinya. IBM mendukung NASA dalam semua program luar angkasanya, mulai dari Mercury, Gemini, Appolo dan juga misi Skylab. IBM juga membantu memberi notebook ThinkPad kepada para astronot di dalam pesawat ulang alik.

1970: Relational Database
Edgar F. Codd, seorang peneliti di IBM, mengenalkan suatu konsep mengenai database relasional -- yaitu sebuah himpunan dari tabel-tabel yang saling berhubungan dan berisi data dalam kolom-kolom yang sudah didefinisikan. Hal itu akan memungkinkan informasi untuk bisa diakses dan dimanipulasi dengan cara yang baru.

1974: RISC (Reduced Instruction Set Computer)
Peneliti IBM, John Cocke membangun suatu himpunan instruksi yang disederhanakan untuk pemrograman mikroprosesor dan hal ini menjadi cornerstone untuk chip-chip modern saat ini, termasuk mikroprosesor Power milik IBM. Hari ini, POWER5 system-on-a-chip merupakan prosesor RISC yang berkembang pesat di dunia industri.

1981: IBM Personal Computer
IBM PC telah menjadi standar dalam dunia komputer dan juga menjadi bagian dalam bisnis dan juga kehidupan sehari-hari. Pada awal tahun 1980an, sudah ada kurang dari sejuta PC yang sudah digunakan, sementara itu sampai akhir tahun 1980an sudah ada lebih dari 100 juta PC.

1991: IBM Global Services
IBM membentuk Integrated Systems Solutions Corporation, yang merupakan precursor dari IBM Global Services yang telah membangun USD$ 13 milyar bisnis layanan IT. Sampai dengan tahun 2004, layanan teknologi informasi untuk kepentingan bisnis sudah berkembang di pasar global dan IBM Global Services telah menghasilkan USD$ 46.2 milyar, yang merupakan 48% dari total revenue IBM.

1995: IBM Software
IBM membuat sebuah unit bisnis software yang mana fokus pada platform yang terbuka dan juga independen middleware. Sampai dengan tahun 2004, IBM Software telah menghasilkan revenue USD$ 15 milyar yang mana 80% -nya berasal dari middleware.

1997: Copper Chip Technology
Peneliti IBM membangun suatu metode untuk menggantikan aluminium wiring pada mikroprosesor dengan tembaga. Hal ini mengakibatkan mikroprosesor yang lebih cepat dengan harga yang lebih murah.

1999: Linux for Business
IBM menyatakan komitmennya untuk mendukung sistem operasi open source Linux dan mulai untuk mendukung sistem operasi ini dalam semua lini produk dan layanannya.

2004: Blue Gene menjadi super komputer tercepat di dunia
Dengan berbasiskan pada teknologi mikroprosesor Power IBM dan Linux, sistem Blue Gene berhasil menancapkan kukunya sebagai super komputer tercepat di dunia dengan performa 70.7 teraflops atau setriliun kalkulasi per detik. Ukuran Blue Gene lebih kecil dan lebih murah baik dari sisi cost dan juga konsumsi power yang lebih rendah daripada super komputer yang tradisional. Blue Gene bisa digunakan untuk berbagai keperluan, sehingga hal ini menguntungkan IBM secara komersial.

Sumber : http://kotakpengetahuan.blogspot.com/
read more

RAHMAH EL YUNUSIYAH ; Syaikhah Dunia Pendidikan Perempuan

rahmah-el-yunussiyah 

Negeri Minangkabau terkenal telah melahirkan begitu banyak  tokoh utama di negeri ini, baik alim ulama maupun para cendekia. Tidak hanya hanya kaum pria yang menonjol, tapi juga kaum wanitanya. Salah satu tokoh perempuan hebat dari negeri ini adalah Rahmah El-Yunusiyah. Tidak diragukan lagi Rahmah el-Yunusiyah adalah salah satu tokoh wanita hebat yang dimiliki negeri ini. Meskipun tidak diangkat sebagai salah satu pahlawan nasional, tetapi beliau menorehkan sejarah hidupnya denga tinta emas. Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang yang tetap eksis hingga hari ini merupakan  salah satu bukti perjuangannya. Bahkan beliau adalah perempuan pertama yang mendapat gelar Syaikhah dari Universitas Al-Azhar Mesir. Penganugerahan gelar syaikhah yang diberikan pada tahun 1957 ini dimaksudkan untuk menghormati jasa-jasa beliau dalam bidang pendidikan kaum perempuan.

Rahmah El-Yunusiyah dilahirkan pada hari Jumat 20 Desember 1900 di Bukit Surungan, Padang Panjang, Sumatera Barat. Anak bungsu dari lima bersaudara ini merupakan  putri dari pasangan Muhammad Yunus dan Rafiah. Rahmah berasal dari keluarga yang taat beragama. Ayahnya adalah seorang ulama besar yang menjabat  sebagai kadi di negeri Pandai Sikat, Padang Panjang. Dia juga seorang haji yang pernah mengenyam pendidikan agama selama empat tahun di Mekkah. Kakak sulungnya, Zainuddin Labay  merupakan  seorang  tokoh pembaharu sistem pendidikan Islam  Diniyah School yang didirikan tahun 1915. Zainudin Labay mengusai beberapa bahasa asing yaitu Inggris, Arab, Belanda. Dengan kemahirannya berbahasa asing menyebabkan wawasan Zainuddin sangat luas. Dialah yang menjadi guru, pemberi inspirasi, dan pendorong cita-cita Rahmah el-Yunusiyah.

Meski hanya mengenyam pendidikan dasar selama tiga tahun di Diniyah School, tapi Rahmah El-Yunusiyah memiliki wawasan yang  luas. Dia lebih banyak belajar otodidak dan juga belajar langsung kepada kedua kakak laki-lakinya, Zainuddin Labay dan Mohammad Rasyid. Seperti kebanyakan orang Melayu lainnya yang menyeimbangkan antara pendidikan umum dan agama, Rahmah pun intens belajar agama. Pagi hari sekolah di Diniyah School, sore hari mengaji kepada para ulama. Beliau mengaji kepada  Haji Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul, ayahanda dari ulama terkenal Buya Hamka. Selain mengaji kepada Haji Rasul, Rahmah juga mengaji kepada  Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim, Syekh Abdul Latif Rasyidi, Syekh Mohammad Jamil Jambek dan syekh Daud Rasyidi. Lingkungan relijius  dan cendekia seperti inilah yang telah menumbuhkan kepribadian Rahmah.

Rahmah dikenal sebagai sosok yang cerdas,  lincah, menyukai  hal-hal baru, dan memiliki tekad baja. Jika sudah menginginkan sesuatu, maka tiada seorang pun yang mampu menghalanginya. Karena kecerdasannya, setelah lulus sekolah dia diminta menjadi guru bagi almamaternya. Disela-sela kesibukannya mengajar, dia mengikuti kursus  kebidanan di RSU Kayu Taman (1931-1935). Ia juga belajar ilmu kesehatan dan pertolongan pertama pada kecelakaan.

Pada saat itu masih sangat sedikit perempuan yang bersekolah. Paradigma masyarakat Melayu memandang perempuan hanyalah makhluk kelas dua yang tidak perlu bersekolah tingi. Percuma bersekolah jika akhirnya hanya masuk ke dapur. Perempuan masa itu sangat pasif dan belum mampu memberikan kontribusi riil bagi kemajuan agama dan bangsanya. Rahmah sangat prihatin dengan kondisi ini. Ia berpendapat pendidikan sangat penting bagi kaum perempuan. Dengan pendidikan maka kaum perempuan mampu mengangkat harkat dan martabatnya, mampu melahirkan generasi penerus yang berkualitas. 

Berangkat dari keprihatinan inilah Rahmah El-Yunusiyah bertekad untuk mendirikan sekolah khusus bagi kaum perempuan. Dibantu oleh kakak sulungnya  Zainuddin Labay, akhirnya Rahmah El-Yunisiyah berhasil mewujudkan mimpinya. Pada tanggal 1 November 1923 berdirilah Madrasah Diniyah Li al-Banat. 

Bahu membahu dengan Zainuddin Labay, Rahmah mengelola sekolah ini.  Awalnya  murid sekolah ini hanya 71 orang yang terdiri dari kaum  ibu-ibu muda. Bertempat di serambi  masjid Pasar Usang, mereka belajar ilmu-ilmu agama  dan Bahasa Arab.  Seiring berjalannya waktu, murid Rahmah pun bertambah. Akan tetapi baru sepuluh bulan sekolah ini berjalan, Zainuddin Labay dipanggil oleh Alloh SWT, meninggal dalam usia muda. Rahmah sangat terpukul dengan musibah ini. Dia kehilangan seseorang yang selalu membimbing, mengarahkan dan memberi semangat untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Tapi Rahmah pun segera bangkit, tidak larut dalam kedukaan. Dia tetap melanjutkan keberadaan Madrasah Diniyah Li al-Banat  bahkan membuat keputusan untuk memberikan pengajaran klasikal lengkap dengan sarananya seperti gedung, meja, bangku, papan tulis, kapur dan sebagainya. 

Rahmah berjuang keras untuk mendirikan gedung bagi sekolahnya. Berkat kegigihannya, gedung sekolah itu pun dapat berdiri diatas tanah wakaf dari ibundanya sendiri, Ummu Rafiah. Diatas bangunan sederhana dari bambu berukuran 12 X 7 m inilah kegiatan belajar-mengajar berlangsung setiap hari.
Rahmah El-Yunusiyah selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi lembaga pendidikannya. Dia ingin mendirikan gedung yang layak bagi para muridnya, bukan dari bambu. Akhirnya Rahmah memutuskan untuk mengadakan tour penggalangan dana .

Pada tahun 1927, dia menggalang dana di Aceh dan Sumatera Utara selama tiga bulan.  Selain penggalangan dana, tour ini juga bertujuan sebagai ajang study banding bagi para calon guru di Madrasah Diniyah Li al-Banat. Rahmah menghadap para sultan, mempresentasikan visi dan misi sekolahnya. Dia juga mengunjungi  sekolah-sekolah ternama pada masa itu. Dari penggalangan dana ini, Rahmah berhasil membangun gedung dan asrama yang mampu menampung 275 murid dari 350 total murid keseluruhan. Selain perbaikan sarana fisik, Rahmah juga mengadakan perbaikan kurikulum.  Jika sebelumnya hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama, maka selanjutnya Rahmah memasukan pelajaran  umum seperti Bahasa Indonesia,  Bahasa Inggris, Bahasa Belanda, menulis latin,  berhitung, tata buku, hitung rugi laba,  kesehatan, ilmu alam, ilmu tubuh manusia,  ilmu bumi, ilmu tumbuhan, ilmu binatang dan menggambar. Sedangkan program ekstra kurikulernya meliputi renang, musik, menganyam, bertenun.

Berkat kegigihannya, lembaga pendidikannya mengalami perkembangan yang sangat pesat.  Di tahun 1926 ia membuka kelas Menjesal School. Kelas ini ditujukan bagi para wanita yang belum bisa baca tulis. Kemudian tahun 1934 Rahmah berhasil mendirikan sekolah Taman Kanak Kanak (Freubel School) dan Junior School (setingkat HIS). Ia juga mendirikan Diniyah School Putri tujuh  tahun yang terdiri dari tingkat Ibditaiyah selama empat  tahun dan tingkat Tsanawiyah selama tiga tahun. 

rahmah-el-yunussiyah2 
Dalam kenyataannya, Rahmah el Yunusiyyah menghadapi problem tenaga pendidik untuk lembaga pendidikan yang dibukanya. Guna memenuhi tuntutan tersebut, ia membuka Kulliyat al Mu’alimat al Islamiyah pada tahun 1937. Kulliyatul Mu’alimat al Islamiyyah ini bertujuan untuk mencetak tenaga guru muslimah profesional. Jangka waktu pendidikannya ditempuh selama tiga tahun. Setahun sebelumnya, yaitu tahun 1936 Rahmah berhasil mendirikan sekolah tenun.

Diniyah School Putri Padang Panjang mendapat tempat di hati masyarakat. Lulusannya sangat diminati. Tidak hanya di Sumatra dan Jawa bahkan hingga masyarakat Malaysia dan Singapura. Rahmah kemudian membuka cabang Diniyah School di beberapa tempat. Ketika ia mengikuti Kongres Perempuan Indonesia mewakili Sumatera Barat di tahun 1935, Rahmah sekaligus membuka cabang di Kwitang dan Tanah Abang. Kemudian di tahun 1950, ia membuka cabang di Jatinegara dan Rawasari. 

Rahmah juga berusaha menyempurnakan institusinya dengan cara memiliki lembaga pendidikan setingkat perguruan tinggi. Cita-cita ini terlaksana pada tahun 1967 dengan berdirinya Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Dakwah. Pada tahun 1969. Kedua fakultas ini berubah namanya menjadi Fakultas Dirasah Islamiyyah. Ijazah Sarjananya diakui setara dengan Ijazah Fakultas Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN).

Dalam mengelola lembaga pendidikannya, Rahmah memilih sikap independen tidak berafiliasi kepada pihak manapun, baik pemerintah maupun partai.Sikap ini terlihat jelas ketika Rahmah menolak subsidi dana pendidikan dari pemerintah kolonial Belanda. Rahmah juga menolak penggabungan sekolah-sekolah Islam di Minangkabau. Dia berpendapat, independensi menyebabkan sekolah bebas untuk berjalan sesuai dengan visi dan misi sendiri, sehingga mampu menghasilkan para pelajar yang cerdas, shalihah dan militan.

Disamping berjuang di bidang pendidikan, Rahmah juga turut berperan aktif dalam organisasi kemasyarakatan. Dia pernah aktif di beberapa organisasi, diantaranya yaitu Serikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS), Taman Bacaan, Anggota Daerah Ibu. 

Pada masa pendudukan Jepang Rahmah aktif di organisasi Gyu Gun Ko En Kai, Haha no Kai. Sewaktu pecah perang pasifik, Rahmah menjadikan Diniyah School sebagai Rumah Sakit darurat.  Kemudian ketika berita proklamasi kemerdekaan belum sampai kepada khalayak ramai, Rahmah adalah orang yang pertama kali mengibarkan bendera merah putih di Sumatera Barat. Sungguh luar biasa keberaniannya. Di era kemerdekaan, Rahmah mengayomi Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbulwatan. Ia juga turut mempelopori terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat. 

Keberhasilannya dalam mengelola Perguruan Diniyyah Putri Padang Panjang  mendapat apresiasi tidak hanya dari dalam negeri tapi juga dari luar negeri. Rektor Universitas Al Azhar Mesir, Dr.Syaikh  Abdurrahman Taj mengadakan kunjungan ke Perguruan pada tahun 1955. Kemudian beliau mengadopsi sistem pendidikan Perguruan Diniyyah Putri Padang Panjang tersebut ke Universitas Al Azhar yang pada waktu itu belum memiliki pendidikan khusus bagi perempuan. 

Rahmah El-Yunusiyyah berhasil mewarnai kurikulum Al-Azhar. Atas jasanya tersebut, Rahmah mendapat gelar Syaikhah dari Universitas Al Azhar pada tahun 1957. Beliaulah wanita pertama yang mendapat gelar syaikhah. Prestasi yang sangat membanggakan bagi Rahmah khususnya dan bagi bangsa Indonesia umumnya.

Rahmah El-Yunusiyyah telah berhasil membuktikan kepada dunia bahwa muslimah Indonesia bukanlah perempuan yang terbelakang.  Bahwa muslimah taat bisa berkontribusi bagi agama dan bangsanya. Beliau berhasil mewujudkan cita-citanya karena keyakinannya yang teguh kepada Alloh serta tekadnya yang membaja. Rahmah tutup usia pada tanggal 26 Februari 1969. Meskipun beliau telah tiada tapi semangatnya tetap mengalir hingga hari ini. Kisah hidupnya tetap memberi inspirasi bagi seluruh muslimah Indonesia. Selamat jalan Syaikhah….perjuanganmu akan selalu kami kenang

* Penulis : Widi Astuti


Sumber : http://serbasejarah.wordpress.com/
read more

Perempuan Pejuang ; Sejarah Para Perempuan Pejuang di Nusantara

Seluruh insan yang dicipta oleh Al-Kholiq Yang Maha Pencipta, memiliki tujuan penciptaan yang sama yaitu untuk menjadi Hamba-Nya yang mengabdi kepada Maha Raja Penguasa Langit dan Bumi Allah SWT. Dia lah yang telah menyempurnakan penciptaannya baik insan laki-laki maupun insan perempuan. Allah telah menganugerahkan kepada perempuan sebagaimana pula Allah menganugerahkan kepada lelaki segala potensi aqliyah, ruhaniyah dan jasmaniyah. Kepada mereka berdua dianugerahi Allah potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab dan yang menjadikan kedua jenis kelamin ini dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang bersifat umum maupun khusus.
Tak ada beda antara lelaki dan perempuan di hadapan Allah, semuanya diberikan fungsi dan peran yang sama untuk memikul tanggung jawab hidup di dunia sebagai Khalifatullah di bumi. Al-Qur’an memberikan gambaran tentang kewajiban yang sama antara lelaki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan bahkan diperintahkan untuk bahu membahu bekerja sama untuk mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar.
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah awliya’ bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh untuk mengerjakan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. At-Taubah (9) : 71)
Banyak yang dijadikan contoh dalam Al-Qur’an bagaimana kiprah perempuan yang beriman (Mu’minat – Muslimat) yang peran penting dalam panggung sejarah terkhusus sejarah gerak perjuangan dakwah para Nabi dan Rosul Allah. Ada Siti Hawa, wanita pertama yang Allah ciptakan untuk menemani Adam as memimpin bumi, ada Siti Sarah, wanita cantik yang pertama kali beriman kepada dakwah Nabi Ibrahim. Keteguhan imannya kepada Allah dan ketaatan pada suaminya di uji ketika ia digoda oleh seorang Raja yang kaya raya untuk berzina, tetapi ia tetap berpegang teguh pada keimanan dan keta’atan pada suaminya, ada juga Siti Hajar, wanita yang cantik yang terkenal karena keteguhan keimanan, ketakwaan dan tawakalnya kepada Allah. Sehingga hal itu di abadikan oleh Allah dalam salah satu dalam syariat haji. Yaitu, sa’i,  berlari-lari kecil antara bukti shofa dan marwa. Ada juga Ibunda Musa, adalah sosok ibu yang rela berkorban demi keselamatan anaknya, sangat sabar dalam membesarkan anaknya, walaupun ia harus rela melepaskan anaknya untuk di adopsi oleh Asiyah, istri fir’aun. Seorang istri yang sholehah dari Raja dan penguasa yang sangat kejam, dan lainnya.
“Dan Allah menjadikan contoh (teladan) bagi orang-orang yang beriman perempuan Fir’aun, ketika ia berdo’a: Tuhanku, bangunkan bagiku rumah di surga. Selamatkan aku dari Fir’aun dan perbuatannya. Selamatkan aku dari kaum yang zalim.” (QS. At-Tahrim (66) :11).
Asiyah binti Mazahim adalah contoh teladan dari perempuan pejuang, dia adalah istri Fir’aun yang hidup dibawah kekuasaan suami yang melambangkan kezaliman. Asiyah dengan teguh memberontak, melawan dan mempertahankan keyakinannya apapun resiko yang diterimanya.
Tentu ada juga perempuan-perempuan yang Allah abadikan di dalam Al-Qur’an sebagai peringatan bagi orang-orang beriman, karena pembangkangannya kepada Allah dan Rosul-Nya seperti istrinya Nabi Luth ataupula istrinya Nabi Nuh.
Allah membuat contoh bagi orang yang ingkar; istri Nuh dan istri Luth, mereka adalah istri dua orang hamba di antara hamba-hamba Kami yang saleh. Tetapi mereka berkhianat (kepada suami-suaminya). Maka mereka tiada berdaya suatu apapun terhadap Allah. Kepada mereka dikatakan, “Masuklah kamu ke dalam neraka jahanam bersama orang yang masuk (ke dalamnya)” (QS. At-Tahrim (66): 10).
Ini semua Allah kisahkan agar menjadi pelajaran (ibrah), nasehat (Mau’idhzah), peringatan (Zikra), petunjuk (Huda), peneguhan (Tasdiq) dan Kasih sayang (Rahmah) bagi generasi manusia selanjutnya.
Di Nusantara, perempuan punya cerita. Kisah perempuan pejuang yang banyak dilupakan oleh zaman yang tak menghargai mahalnya warisan sejarah. Perempuan pejuang bukan hanya sebatas “pejuang perempuan” yang mencari hak diantara dominasi kaum lelaki akan tetapi lebih dari itu, mereka memperjuangkan hak-hak manusia untuk merdeka. Perempuan pejuang yang membentang dari masa ke masa membela keyakinan dan harapan, memperjuangkan tanah kelahiran tempat bakti pada Ilahi.

Rekam jejak perempuan pejuang ini dihadirkan kembali dalam ingatan generasi kini dalam buku “PEREMPUAN PEJUANG : Jejak Perjuangan Perempuan Islam di Nusantara dari Masa ke Masa” yang ditulis oleh penyuka sejarah Widi Astuti.

                                         Jejak “Ibu Pertiwi” Penjaga Negeri
Cover Buku
                                                           Cover Buku

Tahun 1511 adalah catatan awal invasi bangsa Eropa pertama ke wilayah Nusantara. Inilah perang Sabil pertama dalam sejarah Islam Nusantara, yang ditandai dengan agresi tentara Kerajaan Protestan Portugis yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque yang berpusat di Goa, India, terhadap Kerajaan Islam Malaka, yang ketika itu di bawah kekuasaan Sultan Mahmud Syah I (memerintah tahun 1488 – 1511).

Di ujung pulau Sumatera, Kesultanan Aceh belum lama berdiri ketika Portugis menaklukkan Malaka pada 1511. Kesultanan ini secara bertahap menjadi kuat di semenanjung Sumatra pada paruh pertama abad ke-16. Kala itu, lada Sumatra laku keras di pasaran Tiongkok dan Eropa. Hubungan dengan pedagang dari pesisir laut merah pun segera terjalin. Ini membawa keuntungan bagi Kesultanan Aceh. Portugis melihat itu sebagai ancaman, sementara sultan-sultan Aceh menilai Portugis sebagai lawan. Perang pun tak terelakkan. Aceh menyerang Malaka pada 1537, 1547, 1567, 1574, dan 1629.

Dalam peperangan itu, Aceh menyertakan armada perempuan. Orang Portugis agak canggung dibuatnya. Tapi, tak ada pilihan: mereka harus berperang melawan para perempuan. Inilah tilas mula keperkasaan perempuan Aceh. Kesertaan perempuan Aceh ditemukan dalam perang tahun 1567 walau belum berhimpun dalam kesatuan khusus. Jennifer Dudley, mahasiswi doktoral Universitas Murdoch, menyebut perempuan-perempuan itu bergabung ke dalam pasukan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar. “Mereka menemani suaminya berperang, sementara sisanya adalah janda atau tunangan dari prajurit yang gugur dalam perang sebelumnya,” tulis Dudley dalam “Of Warrior Women, Emancipiest Princesses, ‘Hidden Queens’, and Managerial Mothers.”

Dari sinilah sejarah perempuan pejuang bermula, darah Syahidah Keumalahayati mengalir dari Selat Malaka mewarnai lautan yang menghubungkan antar Nusa yang bernama Nusa-Antara (Nusantara). Nama Malahayati dari Kesultanan Aceh yang berhasil meluluh lantakan armada-armada penjajah. Reputasinya sebagai penjaga Selat Malaka yang handal sangat ditakuti oleh armada-armada Portugis, Belanda dan Inggris. Nama Malahayati mampu membuat bergidik kapal-kapal asing.

Sebelum Malahayati, sosok yang ditakuti tentara Portugis, mereka menyebutnya Rainha da Japara, senhora poderosa e rica, yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa. Dia adalah Ratu Kalinyamat dari Jepara yang bersekutu dengan Kesultanan Aceh menggempur Portugis di Selat Malaka. Kehebatan dan kekayaan Ratu Kalinyamat digunakan untuk menegakan agama Allah. Dia tidak rela bumi Nusantara dijadikan perpanjangan tangan  perang salib. Ratu Kalinyamat dan Malahayati adalah “Ibu Pertiwi”, ibu dari para penjaga negeri, semangat mereka melahirkan para perempuan pejuang di bumi Nusantara dari masa ke masa.

Launching Buku 

Buku ini mengulas jejak perempuan pejuang di Nusantara dari masa ke masa. Ada 17 perempuan berbeda masa, berbeda generasi, yang tersebar di seluruh Nusantara berkiprah untuk satu tujuan menjadi pengawal negeri, menjadi “Ibu Pertiwi”. Mereka adalah Ratu Kalinyamat, Malahayati, Safiatudin, Nyi Ageng Serang, Siti Aisyah We Tenriolle, Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Pocut Baren, Cut Nyak Meutia, Pocut Meurah Intan, Siti Walidah, R.A. Kartini, Dewi Sartika, Rohana Kudus, Rahmah El-Yunusiyah, H.R. Rusana Said, dan Solichah A. Wahid Hasyim. Sebuah penulisan sejarah yang masih langka karena sejarah masih didominasi oleh kaum laki-laki.
Buku yang menarik untuk disimak. Penulis cukup jeli melihat peluang dengan mengambil tema yang belum banyak dilirik penulis sejarah: perempuan pejuang di era pra kemerdekaan. Buku ini perlu menjadi bahan bacaan bagi para pengajar, siswa maupun masyarakat umum untuk mengenal lebih jauh para tokoh-tokoh pejuang. Selama ini yang banyak diajarkan dan lebih populer adalah dominasi para pejuang kemerdekaan pria. Mengkaji buku ini akan menambah wawasan para pembacanya bahwa sebenarnya banyak perempuan pejuang di bumi Indonesia yang memiliki peran penting dalam mempertahankan tanah leluluhurnya. Salut untuk penulis. ~ Dr. Abdul Aziz Ahmad, M.Si. – Dosen FE Unsoed Purwokerto
Corak sejarah yang androsentris seperti ini menempatkan perempuan hanya sebagai figuran. Keadaan ini memang tidak adil karena sesungguhnya perempuan dapat dipandang sebagai pribadi yang mandiri, yang bisa menggerakkan sejarah.
Buku ini adalah penulisan sejarah populer tentang tema yang Insya Allah akan populer. Suatu cara pandang baru tentang sejarah para pejuang wanita Indonesia yang selama ini banyak “dijajah” oleh cara pandang Barat-orientalis yang sangat rasis dan tidak pernah mau mengakui keunggulan ras lain selain bangsa Barat. Semoga menjadi sumbangan yang bermanfaat bagi umat.~Tiar Anwar Bachtiar-Kandidat Doktor Sejarah UI, Ketua Umum PP Pemuda Persis
Sejarah adalah mengingat yang lupa, dan bangsa Indonesia yang besar ini tak pantas untuk melupakan jejak langkah perjuangan kaum perempuan sebagai Ibu Pertiwi.
“Sebuah kumpulan kisah para mujahidah yang menggetarkan panggung sejarah. Perempuan-perempuan garis depan yang kiprah langkahnya terukir gagah, bahkan telah melampaui jamannya. Keperkasaan yang sarat keteladanan, namun sekarang terlupakan. Maka, penulisan kisah mereka sungguh sebuah usaha pengingat kembali, bahwa sejarah masa lalu selalu berguna untuk masa kini dan masa depan.”~NasSirun PurwOkartun- penulis tetralogi novel sejarah “Penangsang”
“Indonesia masih banyak membutuhkan banyak tulisan soal sejarah kita. Agar segalanya menjadi adil dan terang benderang. Buku ini salah satu kontribusi besar dalam dunia penulisan sejarah Indonesia”. ~Burhan Sodiq – Penulis & pemilik Burhan sodiq School of Writing
Perempuan adalah salah satu agent of change yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Keberadaannya sangat menentukan peradaban suatu bangsa. Baik buruknya perempuan menjadi cerminan baik buruknya suatu bangsa. Sejarah pun telah mencatat nama-nama agung perempuan yang pernah dilahirkan di dunia ini. Hampir setiap negara memiliki perempuan-perempuan agung yang mampu menjadi pionir perubahan bagi masyarakatnya, tidak terkecuali negara Indonesia.
“Buku ini menceritakan perempuan-perempuan tangguh yang pernah ada pada masanya. Bisa dijadikan inspirasi untuk perempuan-perempuan masa kini dan masa yang akan datang. Karena sesungguhnya, perempuan adalah ibu bagi kehidupan. Sangat suka.” ~Putra Gara-Sastrawan
“Satu langkah awal yang perlu disokong (support) dalam menghimpun dan memperkenalkan pejuang serta tokoh-tokoh perempuan yang mengukir jejak nyata di bumi nusantara”. ~ Mualimbunsu Muhammad-Penulis Buku Motivasi Perang Sabil di Nusantara
Tampilnya perempuan Indonesia menjadi pionir disebabkan karena keresahannya melihat kondisi sosial disekitarnya yang tidak adil. Ketidakadilan dan kezaliman  ini terlihat jelas ketika Indonesia berada dibawah cengkeraman penjajah, baik Portugis, Belanda, maupun Jepang.
“Sebuah buku yang menarik, karena berisi fakta-fakta yang selama ini tersembunyikan. Ternyata Indonesia memiliki begitu banyak perempuan agung. Mereka mempersembahkan seluruh hidupnya demi ideologi yang diyakininya. Hal yang sangat jarang dijumpai pada masa kini, karena kebanyakan perempuan saat ini hanyalah memuja materi. Buku ini sangat bagus dibaca oleh kaum perempuan agar spirit para mujahidah agung tersebut bisa tertularkan, agar terlahir lebih banyak lagi perempuan-perempuan ideologis. Most wanted book.”~Erlina Wahyuni-Ketua PW Muslimat Hidayatullah Jawa Tengah.
Semoga buku ini dapat memberikan pembelajaran, inspirasi dan kesadaran akan fungsi dan peran perempuan dalam kancah zaman bahwa perempuan-perempuan Indonesia di masa kini pun musti bisa berkarya dan berjuang untuk sebuah keyakinan dan cita-cita yang luhur dan mulia.


Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matamu berlinang
Mas intanmu terkenang

…………..
Ibu kami tetap cinta
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa
 
 
 
Sumber : http://serbasejarah.wordpress.com/
read more

HOS Tjokroaminoto Menurut Mohamad Roem

Cokroaminoto 
Pak Tjokro yang penulis ingat senantiasa memakai pakaian Jawa tradisionil. Blankon, jas tutup, kain panjang dan sandal. Saudara Anwar Tjokroaminoto baru-baru ini menerangkan kepada penulis, bahwa ia pun hanya ingat ayahnya memakai pakaian itu.
Perkenalan kami, pemuda Islam terpelajar yang tergabung dalam Young Islamieten Bond (Serikat Pemuda Islam), dengan Pak Tjokro mulai di tahun 1925, sesudah JIB didirikan. Perkenalan pertama berlangsung di Jakarta di rumah Pak Haji A Salim yang menjadi penasehat JIB. Tapi Pak Tjokro hadir waktu pada akhir tahun 1924 di Yogyakarta, Pak Syamsyurijal mengambil insiatip untuk mendirikan perkumpulan itu, dalam sebuah ruangan yang diterangi dengan lampu teplok. Dan Pak Tjokro ikut merestui pendirian itu.
Seorang pemimpin lain yang juga berkenalan dengan kami di rumah Pak Haji A Salim, ialah Pak AM Sangadji. Kemudian hari kami, setidaknya penulis ini, juga berkenalan dengan lain-lain pemimpin PSII, baik di rumah Pak Salim, maupun di tempat lain, seperti Pak Abikusno, Pak Wondoamiseno, Pak Surjopranoto; tapi tiga orang yang tersebut dahulu itu, yang paling kami kenal.
Kombinasi tiga orang itu yang agak aneh tidak terlepas dari perhatian penulis. AM Sangadji berasal dari Maluku, orang Ambon pertama yang penulis kenal. Sebelumnya penulis mengira bahwa semua orang Ambon beragama Kristen. Mulailah penulis tahu bahwa di Maluku banyak orang Islam. Tapi orang Ambon yang ada di Jawa hampir semua beragama Kristen.
Pak Sangadji seorang yang gagah perkasa. Pakaiannya selamanya rapih, jas buka dengan dasi, celana dan sepatu. Tapi tidak pernah kepala terbuka, selamanya memakai pici. Kumis melintang, dada berbulu (yang disebut akhir ini tidak kelihatan).
Pak Haji Salim seorang Minangkabau memakai pakaian menurut model sendiri. Pakaian Haji Salim ini serupa dengan kemeja yang kita pakai sewaktu revolusi di Yogya. Mula-mula Pak Salim memakai Tarbus, kopiah berwarna merah, yang biasa dipakai oleh orang-orang Arab. Tapi sesudah peristiwa Tripoli, maka tarbus itu yang semua “made in Itali” diboikot. Kemudian Pak Salim membuat pici model sendiri, yang dibuat dari kain serdadu (kain hijau). Pici itu mempunyai dua anak baju di bagian depan. Sesudah itu Pak Sangadji memakai kopiah model “OK”, demikian Pak Salim menamakan modelnya.
Waktu Bhinneka Tunggal Ika menjadi lambang Negara, penulis ingat kepada kombinasi Tjokro, Salim dan Sangadji di tahun 1925.

Orang dan Pakaiannya

Di jaman colonial, pakaian orang masih terikat oleh aturan-aturan atau kebiasaan masyarakat yang ketat. Pakaian masih menjadi ukuran, bagi yang memakai, apakah ia masuk golongan atas atau bawah.
Golongan yang paling atas ialah golongan Belanda, termasuk golongan Eropa. Pakaiannya berupa jas, celana dan sepatu dengan atau tanpa topi. Golongan pegawai negeri atau priyayi, diperbolehkan memakai jas dan celana seperti Belanda, tapi kalau ia orang Jawa atau Sunda harus memakai blangkon; kalau ia orang luar Jawa harus memakai pici, atau lainnya yang sejenis. Berpakaian persis seperti golongan Belanda dipandang tidak patut untuk orang pribumi. Pakaian mempunyai arti seperti pepatah Belanda: “De kleren maken den man” (Pakaian itu membuat orang).
Lama-lama ada juga kebebasan. Bagi orang Indonesia yang terpelajar, yang dapat dipandang sudah termasuk golongan teratas, diperbolehkan memakai pakaian yang sudah 100% seperti Belanda. Tapi golongan pangreh praja masih lama, mungkin karena kemauan sendiri, atau karena tahu bahwa tindakan itu lebih disukai oleh pembesar-pembesar Belanda, masih tetap memakai blangkon, meskipun kain panjang sudah diganti dengan celana.
Penulis ini di tahun 1924, masuk sekolah Stovia (sekolah dokter). Bagi penulis terbuka dua macam pakaian, seperti pemuda Belanda, jas, celana pendek atau panjang dan sepatu, atau pakaian tradisionil Jawa. Begitu pula bagi pelajar-pelajar yang berasal dari luar Jawa. Pakaian Eropa atau pakaian tradisionil menurut daerah masing-masing.
Sarung adalah pakaian yang dipandang kurang sopan atau kurang terhormat. Di sekolah-sekolah negeri di Jawa, di Pekalongan pun, tempat orang membuat Sarung, murid-murid tidak diperkenankan memakai sarung di sekolah-sekolah negeri. Sarung pakaian rakyat jelata.

Pak Tjokro memakai sarung

Jika Anwar Tjokroaminoto tidak ingat ayahnya memakai sarung, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa sudah lama benar, waktu Pak Tjokro memakai sarung. Dan potret Pak Tjokro yang terkenal dan bernilai sejarah, ialah Pak Tjokro yang memakai sarung, jas tutup, pici dan sandal.
Potret Pak Tjokro itu sekarang masih dapat kita lihat di kantor Ladjnah Tanfidziah PSII, di Taman Matraman. Potret itu bukan yang asli, tapi merupakan lukisan berwarna, karya penulis potret terkenal, Haji Zainal. Menurut dugaan penulis, berhubung dengan keterangan Anwar dan lain-lain bacaan, potret itu dibuat di sekitar tahun 1915.
Baru-baru ini penulis memerlukan datang ke kantor PSII untuk merenungkan sambil melihat potret yang sangat mengesankan itu, dan mengingatkan juga apa yang pernah dikatakan oleh Haji A Salim: “Pada saatnya potret itu berarti revolusi.”
Dalam surat Dr. GAJ Hazeau, Pejabat Penasehat Kantor Urusan Bumiputra, tanggal 29 September 1916, yang ditujukan kepada Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum, berkenaan dengan selesainya Kongres Nasional Pertama Sentral Serikat Islam, yang diadakan di Bandung, tanggal 17-24 Juni 1916, dapat diambil beberapa kesimpulan:
  1. Bahwa Sarikat Islam adalah penjelmaan kesadaran rakyat
  2. Bahwa pribumi (Inlanders) tidak suka lagi dipandang sebagai “manusia setengah atau seperempat”, tapi menuntut dihormati sebagai ‘warga Negara bebas” tanah airnya
  3. Bahwa kebangkitan Islam itu tampak juga pada gejala lahir, seperti pakaian, cara-cara bercakap, adat istiadat sehari-hari dan sebagainya[1]
Waktu penulis ini sedang memandang potret Pak Tjokro di Kantor LT PSII tersebut, penulis tidak tahu bahwa seorang pemuda sudah berdiri di samping penulis. Pemuda itu menanyakan tentang pandangan mata pak Tjokro. Pandangan mata yang menantang.
Penulis menjawab, bahwa penulis kenal pelukis Haji Zainal, kawan akrab sudah 40 tahun. Ia seorang PSII kawakan dan penulis dapat menjamin kejujurannya. Iapun penulis rasa pernah mendengar keterangan Pak Haji Salim tentang potret itu: “sebuah revolusi.”
Seperti dikatakan oleh Dr. Hazeau tersebut bahwa kebangkitan rakyat tampak juga pada “gejala yang lahir seperti pakaian, cara-cara bercakap, adat istiadat sehari-hari”, maka perhatikan juga bagaimana Pak Tjokro duduk dalam  potret itu; kaki kanan diangkat dan diletakkan di atas lutut kaki kiri. Seorang Jawa tradisional tidak duduk semacam itu!
Kalau celana itu lambang golongan atas dan sarung pakaian rakyat jelata, maka Pak Tjokro tidak memilih memakai celana dan menganjurkan rakyatnya untuk memakainya juga, akan tetapi Pak Tjokro turun ke bawah dan mempersatukan diri dengan rakyat. Untuk menuntut persamaan ia pandang tidak perlu meniru yang ada di atas, persamaan hak tidak terletak dalam persamaan berpakaian.
Pak Tjokro memakai sarung akibatnya bukan ia yang turun kedudukannya, tapi sarung yang naik pangkat. Sarung menjadi pakaian orang yang terhormat, dan hilanglah perbedaan dalam masyarakat, yang ditentukan dengan memakai celana dan sarung.

h-agus-salim-di-pbb 
Semata-mata bagi kepentingan sejarah, penulis ingin menyinggung keterangan almarhum Hadisubeno. Waktu Ketua PNI itu menuding “kaum sarungan” sebagai golongan yang berbahaya bagi Panca Sila, ia tidak tahu, bahwa Pak Tjokro pada saatnya dengan senjata sarung memberi kesadaran rakyat, bahwa “kaum sarungan” bukan lagi “setengah atau seperempat manusia”, tapi “warga Negara” yang bebas. Hadisubeno juga lupa, bahwa salah seorang Ketua PNI di masa yang belum begitu lama, dan seorang pemimpin Masyumi, sangat konsekwen memakai sarung yaitu Mangunsarkoro, seorang Jawa dan Isa Ansari seorang Minang. Dalam Parlemen kita di tahun lima puluhan, kedua anggauta yang terhormat itu selalu memakai sarung di mana saja. Dan tidak kurang-kurang mereka dihormati dan disegani orang. Dan juga tidak akan tambah dihormati, andaikata mereka memakai celana. Pandangan kita sekarang tentang sarung dan celana sudah lain dari waktu Pak Tjokro berjuang dan sarung menjadi alat perjuangan.

Rok-kostuum di Kongres Nasional Pertama

Pada rapat terbuka Kongres Nasional Pertama, yang diadakan di alun-alun bandung, pada hari Minggu tanggal 18 Juni 1916, Pak Tjokro tidak memakai sarung, melainkan rok-kostuum. Pakaian ini sampai sekarang masih dipakai orang, sebagai pakaian internasional yang bersifat resmi. Seorang Duta Besar yang meyampaikan surat kepercayaan kepada Kepala Negara, kalau ia tidak mempunyai pakaian kebesaran nasional sendiri, dapat memakai rok-kostuum. Orang kawin di Eropa memakai rok-kostuum.
Penulis ingat pernah membaca, waktu Harry L Hopkins, tangan kanan Presiden Roosevelt, di waktu Perang Dunia II, memakai rok kostuum, yang ia sewa waktu mau beraudiensi dengan Raja Inggeris. Orang tidak perlu mempunyai  rok-kostuum sendiri, dapat menyewa, karena pakaian itu hanya dipakai sekali-sekali pada saat yang jarang terjadi.
Seluruh “Centraal Bestuur” Sarikat Islam, menurut laporan Dr. GAJ Hazeau kepada GG Van Limburg Stirum, yang sudah penulis sebut tadi, memberitakan hal itu, dan penulis ini tidak mempunyai alasan untuk tidak mempercayainya. Memakai sarung sebagai alat perjuangan rasa-rasanya oleh Pak Tjokro sudah dianggap selesai dan pada Kongres pertama, waktu Sarekat Islam sudah mendapat pengakuan dari Pemerintah Hindia Belanda sebagai partai yang meliputi seluruh tanah air, tampaknya ada tujuan hendak memperlihatkan, bahwa pergerakan yang dipimpin oleh Pak Tjokro, tidak hanya ditujukan kepada orang yang pakai sarung saja, melainkan juga bagi orang yang pakai celana.
Sarekat Islam tidak saja menuntut tanah air yang berdiri sendiri dan kewarganegaraan yang bebas atas dasar persamaan, tapi menunjukkan juga, bahwa rakyat di kepulauan ini ingin hidup dalam dunia yang lebih luas, dengan mengindahkan apa yang berlaku dan baik dalam dunia internasional. Umat Islam yang dipimpin Pak Tjokro, meskipun tinggal di kampung dan desa, bukan rakyat “kampungan” tapi mempunyai cita-cita kemanusiaan yang luhur. Istilah “bangsa Indonesia” belum ada waktu itu, tapi kesadaran sudah lahir dan bertumbuh. Puncak kesadaran dan kebangkitan itu akan dicapai di tahun 1928, dalam Sumpah Pemuda, bahwa “Kita berbangsa satu, Bangsa Indonesia.”
Bagi pembaca yang belum tahu rok-kostuum, penulis dapat terangkan: ia terdiri dari jas hitam, bagian belakang panjang sampai  lutut, kemeja putih, dasi putih, celana hitam, di samping pakai sebuah streep hitam mengkilat dan sepatu hitam mengkilat (verlakt). Sempurnanya pakai topi tinggi, tapi ini cukup kalau hanya dipegang. Biarpun iklim Bandung dingin, pakaian itu rasanya masih terlalu tebal. Saya rasa, anggauta-anggauta Centraal Bestuur SI tidak memerlukan beli sendiri, tapi waktu itu di tempat seperti Bandung, dimana terdapat banyak orang Belanda, masih dapat disewa.

Suara Pak Tjokro

Menurut PF Dahler, seorang nasionalis Indonesia, pemimpin golongan Indo, Tjokroaminoto memiliki “een mole, krachtige baritone stem” (suara yang merdu dan berat kuat).[2]  Istilah “baritone” mempunyai arti yang khusus dalam seni musik. Penulis ini pernah mendengarkan Pak Tjokro berpidato di rapat umum yang dihadiri oleh beberapa ribu orang. Dari tiga pemimpin yang penulis sudah sebut Tjokro, Salim dan Sangadji, masing-masing orator “par excellence”, ahli pidato ulung, yang mempunyai gaya dan cirri sendiri-sendiri.
Haji A Salim umumnya dipandang sebagai orator yang brilian. Sangadji mempunyai suara seperti geledek. Perlu diingatkan, bahwa generasi Pak Tjokro belum berbahagia hidup dengan mik dan pengeras suara. Menurut ingatan penulis Pak Tjokro memang mempunyai keistimewaan. Orang di baris depan mendengar suara Pak Tjokro sama kerasnya dengan orang yang duduk di baris belakang, kecuali ia (juga –pen) mampu mengikat perhatian pendengar berjam-jam.

Tjokroaminoto, Sukarno dan Harsono

Di akhir tahun 1966, tidak lama sesudah dibebaskan dari tahanan, penulis mendapat undangan untuk berkunjung ke Makasar. Salah satu acara kunjungan itu ialah member ceramah di Aula Universitas Hasanuddin. Kebetulan sekali Harsono Tjokroaminoto yang memimpin rombongan anggauta parlemen sedang berada di Makasar, dan akan member ceramah juga di tempat dan waktu yang sama.
Harsono bicara lebih dulu, ia mempergunakan kesempatan itu untuk mengeluarkan sepatah dua patah kata terhadap penulis. Itulah pertama kali ia bertemu dengan penulis, sesudah penulis dibebaskan. Kata-katanya baik, malah sangat manis. Penulis ini tidak sering mendengar dan melihat Harsono berpidato, tapi tiap kali mendapat kesempatan itu, ia medengarkannya seperti orang terpaku. Harsono berpidato persis seperti seorang ahli pidato yang lain, yang kita semua kenal, yaitu Sukarno. Gayanya, nadanya, gerak gerik tangannya dan bahasanya. Orang akan berhenti disitu, kalau tidak kenal Tjokroaminoto. Pada saat itu penulis merasa perlu menerangkan agar orang tahu, bahwa Harsono turunan Tjokroaminoto dan tidak meniru Sukarno.
Kalau dengan perkataan tidak akan cukup untuk menggambarkan bagaimana Tjokroaminoto berpidato, penulis rasa orang dapat mengatakan, bahwa kalau orang pernah mendengar dan melihat Sukarno atau Harsono berpidato, kira-kira begitulah gaya dan nada Tjokroaminoto.
Pada saat itu Harsono sangat manis, dank arena iktikad baik yang sebenarnya berkelebihan tidak penulis rasakan. Ia mengatakan bahwa Roem itu gurunya, bahwa meskipun bertahun-tahun tidak ketemu, rasa-rasanya baru sehari atau seminggu tidak ketemu, karena ikatan jiwa dan persaudaraan yang kuat. Ia katakana: “Kalau saudara-saudara buka dada Pak Roem, dan buka dada saya, saudara-saudara tidak akan menemukan kalimah-kalimah yang berlainan, melainkan kalimah-kalimah yang sama, sama perjuangannya terutama kalimah syahadat.” (Pada saat itu penulis otomatis ingat kepada Presiden Sukarno yang mengatakan: “He, Tengku Abdurrahman Putra, mana dadamu ini dadaku”).
Kata-kata yang memang penulis rasakan sedap sekali itu, waktu mendapat giliran, penulis pandang wajib dijawab. Penulis katakan, bahwa ia merasa mendapat kehormatan yang terlampau besar, untuk dinamakan guru saudara Harsono. Mungkin ia melihat ada hal yang seolah-olah datang dari seorang guru, kalau saudara Harsono mendengar sesuatu yang baik dari penulis. Tapi penulis sekarang tahu rahasianya. Yang ia dengar itu, ialah pelajaran yang penulis dapat dari Ayah Harsono yang melalui penulis sebagai pompa bensin, sudah sampai kepada tempat asalnya kembali.
Mengenai persamaan antara Sukarno dan Harsono penulis katakana bahwa di Indonesia ini ada dua orang yang dapat berpidato  seperti yang baru saja kita saksikan, yaitu Presiden Sukarno dan Bapak Harsono. Orang-orang yang sudah tua seperti penulis dapat menambahkan sekelumit sejarah, bahwa yang satu berkat keturunan, dan yang lain karena pengajaran. Presiden Sukarno sendiri sering mengatakan, bahwa ia banyak belajar dari Tjokroaminoto..
“Hanya bangsa yang besar yang dapat menghargai pemimpin yang besar”, sering dikatakan oleh Presiden Sukarno.
Semoga kita dapat menghargai seorang pemimpin besar, Haji Omar Said Tjokroaminoto, yang hari lahirnya, 16 Agustus, pada saat-saat ini kita peringati.*
Majalah Kiblat, Agustus 1972 dalam Buku “Bunga Rampai Dari Sejarah (II)”, Mohamad Roem, Bulan Bintang, 1977:71-81.
Sumber tulisan : insistnet.com.
read more